Saturday, 18 May 2013

Menguak Pesona Jembatan Bolong Mamuju

Jembatan Bolong begitu mereka menyebutnya, di pandangan saya jembatan ini hanyalah jembatan biasa, tak ada yang istimewa ataupun ekslusif penampakannya. Ia mirip dengan jembatan-jembatan lain yang ada di jalur trans Sulawesi Barat. Jembatan ini terletak di kecamatan Tappalang kabupaten Mamuju dan merupakan  jalur mutlak yang harus anda lalui jika anda ingin menuju wilayah barat pulau Sulawesi. Jarak jembatan juga tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar beberapa meter, bahkan bisa dikatakan jaraknya cukup pendek untuk ukuran jembatan umumnya. Jika saya ukur secara kasar, jembatan sungai Mapilli di kabupaten Polewali Mandar lebih panjang dibandingkan jembatan ini. Intinya secara fisik jembatan bolong adalah jembatan yang hampir sama dengan jembatan-jembatan lainnya.

Sungai Jembatan Bolong
Sungai jembatan Bolong Tappalang - Kab. Mamuju memiliki  panorama keindahan tersendiri
(Photo Credit : Harris Rinaldi)

Lalu apa yang istimewa dari jembatan Bolong? mungkin ini pertanyaan banyak orang, mari kita telisik lebih dalam. Posisi yang strategis jembatan ini salah satunya, ia adalah jalur penghubung yang fungsinya sentral di kabupaten ini. Secara tampak fisik jembatan ini seperti menghubungkan 2 daerah di kecamatan Tappalang.

Pesona sungai di bawah jembatan Bolong juga merupakan satu dari sekian keindahan yang mendukung popularitas jembatan ini. Walaupun popularitas jembatan ini lebih didominasi oleh cerita-cerita misteri dibaliknya. Tetapi menurut saya sungai dibawah jembatan inilah yang menjadi pelengkapnya. Keindahannya telah saya buktikan sendiri. Kondisi degradasi lingkungan yang kian parah memang sedikit banyak mempengaruhi sungai dibawah jembatan ini, debit airnya tidak lagi deras, maka kemudian cenderung terjadi pendangkalan di sungai ini, hingga batu-batu di sungai ini terlihat dengan jelas. Kesegaran air sungai batu-batu sungai yang alami dengan vegetasi alam khas Tappalang menambah kesejukan sungai ini.

Kombinasi vegetasi diatas jembatan Bolong lebih menarik lagi, dan ini yang tampak begitu jelas saat saya mampir dan menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di jembatan ini. Pohon-pohon berukuran tinggi dengan diameter yang tidak biasa, dengan ranting serupa akar rotan yang menjuntai kebawah menambah keasriannya. posisi jembatan Bolong yang strategis dengan letak diantara pegunungan yang tinggi membuat panorama di sekitarnya begitu indah dengan posisi jurang dalam di sisi pegunungan. Letak-letak jurang ini kemudian yang membuat resiko kecelakaan lalu lintas menjadi sangat tinggi di daerah ini. 

Di ujung jembatan ini pada bulan-bulan tertentu anda dapat menemukan penjual buah khas pedalaman kecamatan Tappalang, misalnya saja buah durian, rambutan, atau langsat. Dengan bangunan kecil yang dibuat seadanya mirip dengan bangunan semi permanen berukuran sekitar 3 meteran yang cukup untuk menampung bahan-bahan yang mereka tawarkan , para penjual buah ini merupakan warga asli yang bermukim di sekitar jembatan Bolong. Jumlah warga yang menawarkan buah di ujung jembatan ini tidak banyak dan kemunculannya hanya pada musim buah saja.

Cerita lalu soal keangkeran jembatan ini ada begitu banyak saya dengar, semenjak lama mungkin puluhan tahun sebelum saya menjejaki jembatan ini cerita-cerita misteri jembatan Bolong sudah akrab ditelinga. Orang-orang yang melalui jalur trans sulawesi barat pasti mengetahui betul tentang jembatan ini, coba saja anda bertanya pada sopir-sopir angkutan umum dengan izin trayek Majene-Mamuju, Makassar-Mamuju hampir semua sopir tahu tentang letak dan cerita keangkeran jembatan ini. Singkatnya cerita misteri jembatan Bolong telah melegenda sejak lama. Namun, belakangan beberapa tahun terakhir ini jembatan ini seolah aman-aman saja, saya tak pernah lagi mendengar cerita-cerita itu, dan kesan saat pertama kali menjejaki jembatan ini adalah panorama sekitarnya indah, mengalahkan cerita keangkerannya.

Biarlah kemudian cerita misteri jembatan Bolong melegenda, agar pengendara yang ingin melewati jembatan dan jalur trans sulawesi barat tetap berhati-hati, karena memang jalur jalan yang berkelok-kelok menjadikan faktor resiko kecelakaan menjadi sangat tinggi. Dan satu yang perlu digaris bawahi disini yaitu jalur trans sulawesi barat sebagian besar adalah daerah yang masih asri dan alami karena belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia. Begitupula kondisi yang terjadi pada  jembatan Bolong dan vegetasi di sekitarnya saat ini.

0 comments:

Post a Comment