Tuesday, 2 July 2013

Menggambar, satu hal yang paling tidak bisa saya lakukan, selalu saja aneh ketika menggerakkan alat tulis diatas kertas, jelek, tidak proporsional itu pasti hasil dari gambar saya. Tapi tahukah anda kegiatan yang masuk dalam wilayah seni ini adalah kegiatan produktif dan tepat untuk merekam apapun yang ada dimata anda. Jika kita berbicara budaya dan wisata maka kegiatan menggambar bisa jadi salah satu rangkaian untuk merekam jejak-jejak yang ada saat ini, lebih jauh lagi melestarikan apa yang pernah ditinggalkan oleh sejarah untuk melahirkan apa yang kita sebut sejarah baru.

Menggambar jujur bukanlah hal mudah bagi setiap orang, jika harus memilih saya lebih memilih menghafal karena menggambar itu sulit. Tidak semua orang memiliki bakat ini, dan setiap orang diciptakan dengan salah satu kecenderungan, entah itu dalam bidang seni, ataupun yang berkaitan dengan dunia eksakta. Anda akan kagum dengan kehebatan tangan seorang dalam mereplikasi atau mencipta kreatur baru. 

Saya cukup salut dengan bakat yang dimiliki oleh rekan "Pusvawirna Natalia Muchtar", dengan karyanya  sebuah goresan pensil diatas kertas yang saya lihat unik, indah dan original. Merekam dan membumikan budaya dengan menggambar, mungkin itu singkatnya. Saya lebih kagum dengan proses penciptaan kreasi gambarnya yang berjudul "Towaine Mandar" setelah ia juga sebelumnya membuat logo "Tommuane Mandar". Coba saja anda lihat karyanya dibawah ini, unik, cantik dan memukau.

Ilustrasi Towaine Mandar
Gambar : Pusvawirna Natalia Muhtar
Terlihat jelas bagaimana dengan menggambar kita dapat melestarikan budaya, mempromosikannya pada orang-orang lain, dan yang terpenting adalah ini penciptaan dan pengaryaan yang jauh dari sikap kopi dan salin (copy-paste) yang saat ini marak kita lakukan. Penciptaan original seperti ini yang sebaiknya ada dan dijadikan budaya baru untuk tetap menjaga agar ikon-ikon budaya tidak hilang. 

Menggambar hal yang berkaitan dengan budaya dan wisata mungkin bisa jadi solusi saat ini, terutama buat mereka yang memang punya minat dan bakat di wilayah ini. Ada sikap terpukau yang selalu terpancar saat melihat penciptaan karya mulai dari kertas yang kosong tanpa coretan, hingga kemudian pensil digerakkan sesuai dengan naluri seni penciptanya lalu kemudian tercipta karya baru. 

Kegiatan menggambar hal yang berhubungan dengan budaya dan wisata ini juga dapat menjadi salah satu tawaran solusi bagaimana mendekatkan anak-anak yang biasanya akan sangat mencintai dunia gambar di usia mereka yang dalam zaman emas pertumbuhan. Coba saja instruksikan pada anak untuk menggambar  pahlawan-pahlawan daerah (dalam hal ini di wilayah Mandar) atau kemudian gambar sayyang pattuqduq dengan towaine Mandar yang ada diatasnya, dan masih banyak lainnya. Beberapa hal ini mungkin bisa jadi solusi yang cukup baik bagaimana cara mendekatkan anak-anak Mandar dengan budaya mereka. 

Singkatnya menurut saya menggambar adalah cara sederhana kita memanjangkan usia budaya daerah yang seiring zaman selalu mengalami penggerusan oleh budaya-budaya luar yang penuh pengaruh barat yang berlawanan dengan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai etika, moral, dan kesopanan.

Penulis :

Tommuane Mandar, saat ini bermukim di Makassar, hobi travelling dan berbincang soal budaya, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar, Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi, dengan dukungan promo via sosial media.

Kontak saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar    
facebook :  https://www.facebook.com/tommuane.mandar.96   
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com 

0 comments:

Post a Comment